Sosok perempuan separu baya itu begitu tegar menjalani hidupnya, dia mampu mengurus dirinya sendiri bahkan ia juga mengurus anak-anak didiknya. Bu Melan aku kagum kepadanya. Aku begitu dekat dengannya. Kami seperti Ibu dan Anak yang tak dapat dipisahkan.
Hingga suatu saat ia terjatuh dari tangga karna terpeleset, kami membawanya kerumah sakit. Dokter mengatakan kepada kami bahwa Bu Melan tidak ada harapan hidup lagi karena benturan dikepalanya begitu keras mengenai sarafnya.
hari telah berlalu tidak terasa sudah 2 Minggu bu melan dirawat. kata dokter besok dia bisa pulang. Hari ini aku akan menjenguknya. setiba aku dirumah sakit, aku melihat Bu Melan sedang bersih-bersih kamarnya. lalu aku mendekatinya dan berkata,
"sedang apa bu ?"
Bu Melan hanya tersenyum dan melanjutkan bersih-bersih. dengan sigap aku membantunya, aku tak tega membiarkan dirinya membersihkan kamar rumah sakit ini. disaat itu Jam telah menunjukkan pukul 16.00 WIB, aku berpamitan untuk pulang karena besok aku harus sekolah. Tapi aku berjanji padanya untuk datang besok dan mengajaknya kembali lagi bersama-sama kami pulang Kerumah Kita.
Esoknya, aku dan teman-teman datang bersama-sama kerumah sakit. ketika aku membuka pintu kamar, betapa kagetnya aku. disitu telah dihiasinya dengan berbagai pernak-pernik Ulang Tahun disitu juga telah tersedia kue Tart dengan lilin angka 16 dan Tulisan "HAPPY BIRTHDAY SANTI". aku menangis tak menyangka Bu Melan membuatkan kejutan ini untukku. Namun disitu aku sadar bahwa diruangan itu tak ada sosok Bu Melan. aku keluar dan bertanya kepada dokter disitu ,
"Dok, pasien dikamar ini kemana?"
"anda keluarganya? " tanya dokter itu.
"iya saya keluarganya" jawabku
"hmm... begini mungkin ini berat tapi tadi pagi kondisi Bu Melan sangat kritis. Ia hanya berpesan untuk tidak membokar dekorasi yang ada dikamarnya sebelum ada anggota keluarganya datang, namun setelah ia berpesan seperti itu beliau menutup matanya untuk selamanya. sekarang ia ada di Kamar Jenazah."
kata dokter itu.
betapa kagetnya aku, dia bekerja semalaman menghiasi kamarnya hanya untukku. Aku menangis, kenapa secepat ini ia harus pergi. tapi aku akan tetap tegar karena Bu Melan akan hidup dalam hatiku Sekarang dan Selamanya.
aku belajar darinya bahwa dengan keterbatasan tak ada kata menyerah. aku yang memiliki fisik sempurna sering kali mengeluh ketika menaiki anak tangga yang begitu banyak. tapi Bu Melan , dia sama sekali tak pernah mengeluh.
"WANITA SEPERTI DIALAH YANG PATUT KITA CONTOH"
kita seharusnya banyak belajar dari beliau karena keterbatasnnya,,,
kita seharusnya banyak belajar dari beliau karena keterbatasnnya,,,

ini cerita mini ya? :)
BalasHapusiya :)
BalasHapus