Kamis, 27 Desember 2012

RAFFI

kalian tahu tidak ?
aku memiliki seorang SahabatDiffabel . dia tinggal di sebuah kota Istimewa Yogyakarta. kami berteman, ketika dahulu aku berjumpa dengannya didepan rumahnya dekat kuburan kakek dan nenekku. disaat itu aku sedang ziarah. kami berkenalan dan berbagi cerita. dan kemaren aku menelefonnya untuk mengucapkan Selamat Natal.

namun tidak kusangka yang aku dapati adalah kabar buruk. Dia meninggal dunia 1 minggu yag lalu. Aku dan keluarga bergegas pergi ke jogja, untuk turut berduka cita kepada keluarganya. ketika aku memasuki kamarnya aku mendapatkan buku diarinya. aku membacanya satu-persatu hingga aku terhenti pada halaman terakhir. aku membacanya dan mulai meneteskan air mata.

"ALLAH,....
tahukah engkau betapa aku sangat menyayangi engkau. betapa aku percaya akan sungguh keanggunganmu.tapi ALLAH, kenapa sampai detik ini engkau tidak memberikan kepadaku MUJIZAT kesembuhan ??? kenapa engkau membiarkan aku merasa menderita. dan mengapa engkau menjadikan aku bahan lelucon didunia ini. ??? ALLAH, aku tahu manusia tidak ada yang sempurna. tapi mengapa aku berbeda dengan yang lainnya. mereka semua memiliki Tangan , mereka semua tidak memiliki kelainan kaki , sedangkang aku ?? ? hingga saatnya aku sadar Allah, engkau menciptakan aku seperti ini. karena engkau sayang padaku. dan aku berterimakasih kepadamu Allah, karena engkau mengijinkan aku hidup sampai detik ini sajah "

itu adalah diary terakhir Rafa . dia adalah seorang lak-laki berusia sama denganku. tak meiliki tangan dan kelainan pada kakinya. dia selalu tegar hadapi hidupnya. waktu aku berada dijogja, dia selalu mengantarkan ketempat-tempat yang belom aku jumpai. walau keterbatasannya itu dia tak pernah berkata "LELAH".

dia hidup dengan tegar. Ayahnya tidak tahu kemana.

hanya saja ,

aku ingin berpesan ...
manusia itu tidak ada yang sempurna...
dengan ketidaksempurnaannya itu, kita menjadi sempurna karena hati dan pikiran kita lah yang membuat kita sempurna :)


Minggu, 23 Desember 2012

Disabilitasku dan Sahabat Disabilitasku

Hal terindah dalam hidupku adalah ketika aku memiliki seseorang yang mampu  membuat aku bahagia berada disampinya. Entah dia laki-laki ataupun perempuan. Ini bukan kisah tentang aku dan sahabat disabilitas, tapi ini kisah tentang Aku penyandang disabilitas dan sahabat disabilitasku.

            Cacat bukan akhir dari hidupku, tapi cacat adalah awal baru untuk aku mulai mencoba hal baru yang tak pernah aku bayangkan.

            Dulu ketika umurku 12 tahun, sebuah kecelakaan menimpaku. Dokter menyarankan untuk mengaputasi kakiku. Setelah dokter mengijinkanku untuk pulang aku merasa amat senang. Tapi saat itu tak ada seorangpun anggota keluarga yang menjemputku sudah hampir 3 jam aku menunggu tapi mereka juga tak kunjung datang. Aku mulai berfikir apakah mereka tak datang karena mereka tak sanggup membayar biaya administrasi? Dengan alat bantu aku melangkah menuju bagian adiministrasi, dan bertanya apakah biaya pengobatanku sudah dibayar? Mereka mengatakan semua biaya pengobatanku sudah lunas dari kemarin. Tapi mengapa Ayah, ibu dan kakakku tak datang??? Aku  terus menunggu. Tapi setelah 3 hari aku menunggu mereka juga tak kunjung datang, suster rumah sakit merasa iba denganku dan membawaku kepanti asuhan.

            Disini semuanya sama sepertiku. Mereka tak sempurna secara fisik. Ada yang tidak memiliki kaki, tangan, buta, bisu, tuli, memiliki kaki yang aneh, DSB. Aku memandang mereka sangat iba, tapi aku juga sama seperti mereka. Ditinggal oleh semua anggota keluarga karena ketidaksepurnaanku ini. Aku terus berjalan menyusuri ruangan demi ruangan dengan ditemani oleh penjaga perempuan disini. Aku menghabiskan waktuku ditempat ini.

            Enam tahun telah berlalu, tidak terasa kini aku telah beranjak dewasa. Di tempat ini aku memiliki seorang sahabat. Dia sama sepertiku tidak memiliki salah satu kaki. Kami berteman menghabiskan waktu bersama. Kami membuat sebuah misi," kami ingin orang-orang seperti kami dihargai."

            Suatu ketika Bu Elis pengasuh kami mengajak kami untuk berkunjung kesebuah Sekolah Dasar. Disana aku mulai membuka memory kecilku, dimana waktu itu aku masih bisa bermain, bercanda, tertawa, dan berlari-lari sesuka hatiku. Tapi sekarang liat aku ! ! tanpa bantuan tongkat aku tak bisa berjalan. Jika bukan karena rasa kasihan seorang suster rumah sakit mungkin aku sudah tidak berdaya.
            Disana kami berkenalan dengan anak-anak kecil. Mereka memandang kami dengan sangat aneh, tapi mereka tak pernah sedikitpun menghina kami. Aku dan Anita, sahabatku bermain-main disini, kami mengahabiskan waktu kami bermain, bercanda, dan tertawa bersama.
            Hingga suatu saat,  kami mengikuti sebuah kompetisi bernyayi. Awalnya Anita ragu untuk mengikuti lomba ini. Ia merasa aneh dengan pandangan orang-orang. Tapi aku berkata kepadanya "tunjukin sama orang-orang kalo kita bisa”  Anita tersenyum padaku. Dan saat kami mulai menginjakan panggung, suasana panggung berubah jadi hening. Mungkin semua penonton takjub kepada  kami. Alhasil aku dan Anita meraih juara satu. Kami senang bisa menunjukkan bahwa orang seperti kami bisa.

            Suatu hari Ayah, ibu dan kakaku datang kepanti asuhanku begitu mendengar bahwa aku dan Anita memenangkan kompetisi bernyayi. Mereka mengajakku untuk kembali kerumah, tapi aku menolaknya. Karena menurutku hidup dengan orang yang sama dengan kita jauh lebih menyenangkan. Di panti asuhan ini, kita saling menghargai karena kita tahu bahwa disini kita semua sama-sama memiliki kekurangan.

            Aku tidak tahu jika aku berada diluar sana, pasti akan banyak yang mencaci-maki aku. Tuhan, terima kasih engkau telah memberikan aku sebuah musibah seperti ini, karena disaat seperti inilah aku sadar bahwa hidupku tak selamanya indah, pasti akan ada saat aku akan tinggalkan, dibuang dan dicaci-maki. Dan sekarang aku juga sadar orang-orang disekelilingku tak selamanya akan ada dihidupku. Mereka perlahan akan pergi dan aku tahu mengapa mereka pergi disaat aku mengalami kesusahan, itu karena engkau ingin menjadikan aku kuat tuhan.

" dan sekarang aku bahagia dengan seorang sahabat disampingku "


            Anita terima kasih, kamu telah menemaniku menghabiskan waktuku yang terbuang sia-sia.  Karena bersamamu adalah hal berharga dalam hidupku.
                        _selesai _
           

Kamis, 20 Desember 2012

Kawan tak Dikenal



Aku pernah bermimpi inginmenjadi penulis, karena menulis aku dapat berimajinasi. Tapi aku juga pernh bermimpi menjadi pelukis karena melukis aku dapat menuangkan segala emosiku. Lalu aku berfikir bagaimana jika tulisan dan gambar dijadikan satu ? pasti akan jadi cerita bergambar yang indah.

Suatu saat aku mengikuti sebuah lomba cerita bergambar, dan aku berpartisipasi dalam lomba itu. ketika harinya tiba, aku menyiapkan alat gambarku dan duduk untuk memulai mengukir sebuah bentuk. namun mataku menatap seorang anak seusiaku ia menggambar dengan kakinya dan 1 tangannya. anak itu tidak memiliki salah satu tangannya. Aku melihat dirinya begitu sangat hebat. ukiran gambarnya begitu indah.

setelah waktu selesai, semua karya dikumpulkan. aku menanti-nanti kapankah pemenangnya akan diumumkan.
waktu yang kutunggu telah tiba, panitia maju kedepan dengan membawa kertas. ternyata aku mendapatkan juara 2 dan anak tadi mendapatkan juara 1. kami maju untuk menerima hadiah. Aku berada tepat disampinya. ia tersenyum padaku dan mengulurkan tangannya seakan memberi isyarat untuk berkenalan . lalu ia berkata dengan bahasa isyarat yang tak dapat kumengerti. Mungkin, dia menyadari kalo aku agak sedikit bingung dengan ucapannya. oleh sebab itu dia mengeluarkan kertas dan pensil dan menulis "SELAMAT YA , MAAF AKU TIDAK BISA MENDENGAR DAN BERBICARA"  aku membacanya dan menulis kembali "SELAMAT KEMBALI"

panitia menyerahkan hadiah itu kepada kami, lalu kami turun dari panggung aku dan dia saling bercanda, bertukar cerita dan berbagi pengalaman, melalui tulisan .

disaat itu dia menulis,
"aku nyaman dengan keadaanku seperti ini, karena dengan diriku seperti ini aku tak bisa mendengar kata-kata yang tidak baik, aku tidak bisa bicara kata-kata yang tidak baik, dan aku juga takkan bisa memukul orang karena aku sadar tanganku tinggal satu. keadaan ku yang seperti inilah yang memotivasiku"

Aku takjub padanya. Namun aku lupa menanyakan namanya. Tapi entah siapa kamu kawan,  kamu sudah mengajari aku banyak hal tentang hidup. Aku takjub dengannya dengan keterbatasannya ia masih bisa menghasilkan karya. Kamu adalah Kawanku yang tak ku kenal. Terima kasih kawan telah memberi pelajaran berharga kepadaku.



BU MELAN DAN DISABILITASNYA

Dia hebat   mampu membuat anak-anak tersenyum. Dia pintar karena dia mampu membuat air mata kesedihan menjadi kebahagiaan. Sosok wanita itu sungguh hebat walau tanpa kedua kakinya ia mampu membuat banyak orang tersenyum karenanya. Pagi-pagi ia telah rapih dengan pakainnya, menaiki anak tangga di asrama tempat aku tinggal. tanjakkan tangannya terus ia naiki walau menahan berat di badannya. tapi ia  tak pernah lelah,  ia tak pernah mengeluh. dia terus berjalan dengan kedua tangannya. membangunkanku dan teman-teman. Dia pula yang memandikan anak-anak kecil disini.

Sosok perempuan separu baya itu begitu tegar menjalani hidupnya, dia mampu mengurus dirinya sendiri bahkan ia juga mengurus anak-anak didiknya. Bu Melan aku kagum kepadanya. Aku begitu dekat dengannya. Kami seperti Ibu dan Anak yang tak dapat dipisahkan.
Hingga suatu saat ia terjatuh dari tangga karna terpeleset, kami membawanya kerumah sakit. Dokter mengatakan kepada kami bahwa Bu Melan tidak ada harapan hidup lagi karena benturan dikepalanya begitu keras mengenai sarafnya. 

hari telah berlalu tidak terasa sudah 2 Minggu bu melan dirawat. kata dokter besok dia bisa pulang.  Hari ini aku akan menjenguknya. setiba aku dirumah sakit, aku melihat Bu Melan sedang bersih-bersih kamarnya. lalu aku mendekatinya dan berkata,

"sedang apa bu ?"

Bu Melan hanya tersenyum dan melanjutkan bersih-bersih. dengan sigap aku membantunya, aku tak tega membiarkan dirinya membersihkan kamar rumah sakit ini. disaat itu Jam telah menunjukkan pukul 16.00 WIB, aku berpamitan untuk pulang karena besok aku harus sekolah. Tapi aku berjanji padanya untuk datang besok dan mengajaknya kembali lagi bersama-sama kami pulang Kerumah Kita.

Esoknya, aku dan teman-teman datang bersama-sama kerumah sakit. ketika aku membuka pintu kamar, betapa kagetnya aku. disitu telah dihiasinya dengan berbagai pernak-pernik Ulang Tahun disitu juga telah tersedia kue Tart dengan lilin angka 16 dan Tulisan "HAPPY BIRTHDAY SANTI". aku menangis tak menyangka Bu Melan membuatkan kejutan ini untukku. Namun disitu aku sadar bahwa diruangan itu tak ada sosok Bu Melan. aku keluar dan bertanya kepada dokter disitu ,

"Dok, pasien dikamar ini kemana?"

"anda keluarganya? " tanya dokter itu.

"iya  saya keluarganya" jawabku

"hmm... begini mungkin ini berat tapi tadi pagi kondisi Bu Melan sangat kritis. Ia hanya berpesan untuk tidak membokar dekorasi yang ada dikamarnya sebelum ada anggota keluarganya datang, namun setelah ia berpesan seperti itu beliau menutup matanya untuk selamanya. sekarang ia ada di Kamar Jenazah."
kata dokter itu.

betapa kagetnya aku, dia bekerja semalaman menghiasi kamarnya hanya untukku. Aku menangis, kenapa secepat ini ia harus pergi. tapi aku akan tetap tegar karena Bu Melan akan hidup dalam hatiku Sekarang dan Selamanya.

aku belajar darinya bahwa dengan keterbatasan tak ada kata menyerah. aku yang memiliki fisik sempurna sering kali mengeluh ketika menaiki anak tangga yang begitu banyak. tapi Bu Melan , dia sama sekali tak pernah mengeluh. 

"WANITA SEPERTI DIALAH YANG PATUT KITA CONTOH"

kita seharusnya banyak belajar dari beliau karena keterbatasnnya,,,

 

Anastasia Se Copyright © 2014 Paper Girl is Designed by Ipietoon Sponsored by Online Business Journal